Perjalanan band yang penuh cerita tentang pergantian personil ini bermula dari perasaan resah seorang Yovie Widianto di pertengahan tahun 2000. Waktu itu, Yovie ngerasa bahwa idealisme bermusiknya belum benar-benar bisa disalurin secara maksimal lewat band dan proyek-proyek yang udah digarapnya selama ini.
Apa yang jadi pikiran Yovie saat itu sama sekali bukan hal yang aneh. Semua musisi pasti sempat ngalamin hal kayak begitu. Ngalamin perasaan nggak puas. Jenuh. Dan kepengen banget bisa bikin sesuatu yang baru, yang bisa nyegerin lagi mood dan kreativitasnya. Dari sini, Yovie pun mulai berpikir keras supaya bisa keluar dari kemelut yang mengganggu perasaannya itu.
Setelah bertukar pikiran dan ngelobi ke sana-sini selama beberapa waktu, akhirnya pada tahun 2001 Yovie bikin proyek baru yang dikasih nama Yovie & Nuno. Sebuah album kolaborasi berjudul Semua Bintang yang didukung penuh sama label Sony Music dan banyak musisi lokal papan atas pun rilis. Di sini Yovie juga ngenalin vokalis cowo pendatang baru bertampang manis dan karismatik asal Surabaya, bernama Dudi Oris. Nama Nuno sendiri diambil dari istilah bahasa Italia “Numero Uno” yang memiliki makna “nomor satu”. Dan menurut banyak orang, materi lagu dalam album perdana Yovie & Nuno itu terkesan lebih garang dibanding apa yang udah pernah Yovie bikin lewat Kahitna-nya.
Tiga tahun kemudian, pada tahun 2004, Yovie keliatannya udah mulai nemu konsep yang pas buat proyek ini. Album Kemenangan Hati pun rilis. Model kolaborasi ditinggalin. Posisi vokalis sepenuhnya dipasrahin sama duet Dudi dan Gail, nggak keroyokan lagi dengan banyak penyanyi kayak di album sebelumnya. Diat –gitaris chubby berwajah kalem itu— juga mulai konsentrasi penuh ngurusin departemen gitar sendirian. Sayangnya, formasi ini nggak berumur panjang. Di kemudian hari, Gail cabut entah ke mana. Yovie pun mesti cari vokalis lain yang bakal dipasang sebagai rekan duet Dudi buat album Nuno berikutnya.
Di penghujung tahun 2007, dalam sebuah audisi, Yovie nemuin cowo cakep, ganteng, dan berbakat, yang biasa dipanggil Dikta. Ngerasa cocok sama karakter suara dan pembawaan Dikta yang khas, Yovie pun mutusin untuk ngajak Dikta gabung di Nuno. Nggak lama berselang, album ketiga Yovie & Nuno yang dikasih judul The Special One muncul. Lewat album itu, nama Yovie & Nuno semakin menanjak di kancah industri musik lokal. Bassis massa yang disebut Teman Yovie-Nuno semakin solid. Prestasi pun semakin banyak diraih.
Dan lewat sebuah album berjudul Winning 11, Yovie & Nuno kembali menggebrak pentas musik Indonesia, dan menyapa kembali Teman Yovie-Nuno pada tahun 2010 ini.
Sumber: www.yovienuno.com